brat ipoh :D

Latest News

Perang Sengit Capres di Dunia Maya *Kampanye di media sosial meresahkan pengguna internet.


Pemilihan Umum 2014 semakin memperlihatkan fungsi sosial media di dunia perpolitikan tanah air. Twitter, Facebook, Google+ hingga Path dan Instagram menjadi media untuk mempengaruhi keputusan pemilih.
Facebook sampai-sampai harus membuat fitur khusus bertajuk Facebook Election Tracker untuk meramaikan Pemilu di Indonesia. Google juga tak kalah, munculkan fasilitas khusus untuk Pemilu Indonesia.
Namun pertanyaannya adalah, seberapa efektifnya media sosial mempengaruhi keputusan seorang warga dalam menentukan Presiden pilihannya?

Data Markplus Insight 2013 lalu menunjukkan, dari 247 juta populasi di Indonesia, penetrasi internet masih 24 persen dari total populasi atau sekitar 55 juta orang. Angka ini jauh lebih kecil dibanding penetrasi internet seluler yang mencapai 115 persen dari populasi. Pertumbuhan internet rata-rata sejak 2010 hingga 2013 ini mencapai 163 persen.  Jumlah inilah yang dipakai sebagai dasar yang menguatkan media sosial sebagai alat ampuh mempengaruhi  pilihan warga di dunia maya. 

Fenomena penggunaan internet dan media sosial bukanlah yang pertama terjadi untuk ajang pemilihan umum. Kesuksesan tim Obama yang membawanya menduduki kursi Presiden AS selama 2 periode berturut-turut diklaim karena menggunakan teknologi dan media sosial.
Jokowi pun melakukan hal yang sama untuk mengangkat popularitasnya agar bisa menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta. YouTube ‘Flashmob Jokowi-One Direction’ menarik perhatian 1,4 juta penonton. Tidak heran jika kemudian internet juga digunakan oleh pasangan calon presiden dan wakil presiden kali ini untuk menaikkan elektabilitasnya.

Facebook Election Tracker

Indonesia menjadi negara pengguna Facebook terbesar nomor 4 di dunia. Election Tracker merupakan fitur baru Facebook untuk meramaikan pemilu di dunia.
Bulan ini Facebook election tracker masuk ke Indonesia untuk membantu para pemilih untuk membuat keputusan. Dalam fitur tersebut, pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa unggul dari pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pasangan nomor 1 itu lebih banyak dibicarakan oleh pengguna Facebook.

Tercatat 50,39 persen pengguna membicarakan mantan Danjen Kopassus, mengalahkan pembicaraan pengguna soal Joko Widodo (46,63 persen). Pola yang sama juga terlihat pada popularitas Hatta Rajasa, yang mana pembicaraan mengenai mantan Menko Perekonomian itu mencapai 1,55 persen, mengalahkan 1,44 persen pengguna yang membicarakan Jusuf Kalla. 
Menariknya, berdasarkan keterangan tertulis Facebook, dari sisi persebaran, pengguna yang membicarakan terpusat pada wilayah yang berbeda. Prabowo-Hatta populer di wilayah Sumatera, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua.  Sedangkan pasangan Jokowi-JK mendominasi pembicaraan pengguna di wilayah Jawa-Bali dan Kalimantan.

Fakta menarik lainnya tercatat persaingan sengit pembicaraan Prabowo dan Jokowi di DKI Jakarta. Di ibukota ini, pengguna yang membicarakan Prabowo mencapai 47,63 persen, kalah tipis dengan 48,83 persen yang membicarakan Joko Widodo.  Sedangkan pengguna Facebook di ibukota yang membicarakan Hatta Rajasa mencapai 2,16 persen mengungguli pembicaraan Jusuf Kalla yang mencapai 1,38 persen.

Popularitas masing-masing pasangan kandidat itu hampir relevan dengan popularitas akun Facebook mereka. Berdasarkan catatan verifikasi Facebook, akun resmi Facebook Prabowo tercatat disukai oleh 5,9 juta pengguna Indonesia, akun Jokowi disukai 1,5 juta pengguna, akun Hatta Rajasa mencapai 256 ribu dan akun Jusuf Kalla mencapai 864 ribu.

“Kami mencatat sejauh ini pengguna Facebook yang aktif di Indonesia setiap bulannya mencapai 69 juta orang. Fitur baru ini memungkinkan semua warga Indonesia yang menggunakan Facebook untuk melihat bagaimana para kandidat dan partai yang trending mulai dari sekarang sampai setelah pemilu presiden,” ujar Anand Tilak, Head of Facebook in Indonesia.

Twitter dan Tweet Pemilu

Pengguna Twitter di Indonesia cukup aktif. Dalam beberapa waktu belakangan, hashtag berkaitan dengan Indonesia selalu mewarnai trending topik di Twitter. Data Semiocast dan IPRA tahun 2013 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara pengguna Twitter terbesar ketiga di dunia. Dalam waktu satu detik, tweet yang datang dari Indonesia mencapai 385 tweet atau setara dengan satu miliar tweet dalam sebulan.

Saat mengumumkan pencapresannya, hashtag #DukungPrabowoHatta sempat menjadi trending topic di Twitter. Bahkan popularitas hashtag tersebut mengalahkan #WMAOneDirection yang mengacu pada boyband asal Inggris yang saat ini sedang digandrungi para wanita.

Popularitas Jokowi di Twitter memang belum terkalahkan. Di media sosial berkarakter tulisan terbatas ini, @jokowi_do2 memiliki hampir 1,6 juta followers. Sejak bergabung dengan Twitter di September 2011, akun Twitter resmi Jokowi baru memiliki sekitar 914 tweet.  Sedangkan Prabowo melalui akun @prabowo08 masih setia dengan 881 ribu followers.
Namun Prabowo tergolong ‘lebih cerewet’ dibanding Jokowi. Dibandingkan Jokowi yang baru 914 tweet, Prabowo yang telah bergabung dengan Twitter sejak May 2009 lalu telah menghasilkan 8.018 tweet dan 339 foto/video. Prabowo pun ‘lebih ramah’ dibanding Jokowi . Dengan 1,6 juta followers, Jokowi tidak mem-follow siapapun sedangkan Prabowo dengan 881 ribu followers juga memfollow 2.021 akun Twitter lain.

Buzzer

Peran buzzer di dunia maya juga diprediksi efektif untuk membuat seseorang menjadi terkenal. Kedua capres diketahui memiliki ‘pasukan buzzer’ sendiri untuk menyerang pesaing mereka, atau sekadar membela atau memperbaiki nama ‘tuan’ mereka di dunia maya.
Jaringan buzzer yang terkenal di antaranya adalah Jasmev. Diketahui ada ribuan ‘tentara’ Jasmev yang siap membela salah satu pasangan capres. Jasmev awalnya dibuat untuk membantu menaikkan elektabilitas Jokowi dan Ahok saat pemilu Gubernur DKI Jakarta September lalu.

Bukan hanya Jasmev, ada juga beberapa akun Twitter pribadi yang bisa dibayar oleh para kandidat. Buzzer dengan jumlah followers mencapai jutaan, tarif satu kali tweet bisa mencapai Rp5-6 juta. Sedangkan buzzer biasa yang follower-nya hanya ribuan, membandrol tarif lebih murah. Biasanya mereka memaketkan akun Twitter dengan Facebook untuk menyampaikan tweet pesanan.

Efektifkah?

Sayangnya, menurut pengamat media sosial Wicaksono, media sosial tidak terlalu efektif untuk mempengaruhi pemilih untuk pemilu kali ini. Pasalnya, kata pria yang akrab disapa Ndorokakung ini, penetrasi sosial media di kalangan pemilih, khususnya Facebook, masih kecil. Bahkan kurang dari 6 persen.

“Kebanyakan yang bermain di Facebook ini tidak masuk kategori Pemilih Tetap. Facebook ramai oleh kalangan anak muda yang usianya belum wajib ikut pemilu,” kata Ndoro.

Pernyataan Ndoro bisa jadi benar adanya. Data yang dipaparkan oleh Broadcasting Board of Governors (BBG) Gallup bertajuk Media Use in Indonesia 2012 menunjukkan jika pengguna internet di Indonesia didominasi oleh mereka yang berusia 15 sampai 24 tahun. Angka ini termasuk akun anak berusia di bawah 13 tahun yang memalsukan umur demi memiliki Facebook. Sedangkan usia 25-34 tahun hanya mencapai 25 persen saja. Untuk usia di atasnya, 35-54 tahun hanya mencapai 11 persen dan sekitar 2 persen pengguna di atas usia 55 tahun.

Sedangkan menurut data Redwings Asia, pengguna Facebook di Indonesia hampir 70 persennya berusia di bawah 25 tahun. Belum lagi penetrasi smartphone di Indonesia baru mencapai 23 persen saja. Sedangkan 77 persen dari total pengguna seluler di Indonesia masih menggunakan ponsel fitur. Artinya, dari 270 juta pengguna seluler di Indonesia, lebih dari tiga perempatnya belum memiliki akses ke internet.

Baru-baru ini, banyak meme yang menyebar di akun sosial media mewakili keresahan dan kekesalan mereka karena media sosial dianggap sudah tak ‘asyik’ lagi. Gambar yang beredar kebanyakan mengecam mereka yang ‘berlagak’ layaknya juru kampanye.
Beberapa meme yang menarik antara lain adalah tulisan ‘Aku Rindu Kamu yang Dahulu Sebelum Jadi Jurkam di Halaman Facebook-Ku!’. Atau ada juga gambar buatan pengguna Facebook yang beredar menggunakan foto Mark Zuckerberg. Dalam foto tersebut pendiri Facebook digambarkan sedang marah dalam bahasa Jawa karena jejaring sosial miliknya dijadikan alat kampanye.

Yang paling menarik sebuah gambar bertuliskan ‘Jika postingan dan komenmu tentang capres itu merusak pertemanan dan persaudaraan maka sebaiknya stop posting dan komen yang negatif tentang capres. Kalaupun capres yang kamu bela itu menang, dia tidak akan jadi temanmu. Saat pemilu selesai, kamupun telah kehilangan hubungan baik dengan temanmu yang sebenarnya. #stopfanatismecapres #saveyourfriendship’.


© VIVA.co.id
Perang Sengit Capres di Dunia Maya *Kampanye di media sosial meresahkan pengguna internet.
  • Open ID Comments
  • Facebook Comments
Top