"Seorang anggota relawan di Sittwe mengatakan kepada saya bahwa biksu-biksu itu berada di dekat kamp Rohingya dan melakukan pemeriksaan. Mereka mengusir seluruh orang yang hendak memberikan bantuan ke warga Rohingya," tambahnya.
Kedua organisasi biksu terbesar di Myanmar, Assosiasi Biksu Muda Sittwe dan Mrauk juga menyerukan agar warga Myanmar tidak bergaul dengan Muslim Rohingya. Dalam sebuah pernyataannya, para biksu itu mendesak warga setempat agar tidak berkomunikasi dengan warga Rohingya. Sementara itu para pimpinan fraksi politik di Myanmar berupaya untuk mengusir 800 ribu warga minoritas itu dari Myanmar.
“Muslim Rohingya bukanlah kelompok etnis Burma. Mereka akar penyebab kekerasan,” kata salah seorang pemimpin biksu, Ashin Htawara dalam sebuah acara di London.
Direktur Kampanye Myanmar asal Inggris, Mark Farmaner secara terpisah mengatakan, dirinya terkejut dengan peranan para biksu. Mereka begitu agresif mendatangi kamp pengungsi dan memblokir setiap bantuan yang ada. “Kami sangat terkejut dengan masalah ini,” kata Farmaner.
Biksu Kok Anarkis
Dikabarkan pula, Utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan HAM, Tomas Quintana mengunjungi lokasi kerusuhan yang terjadi antara warga Budha Myanmar dengan Muslim Rohingya. Kunjungannya itu diwarnai protes dari sekitar 100 warga Myanmar.
Biksu setempat U Arsi Ra mengatakan, sekitar 100 warga Budha Myanmar protes di kota Maungdaw saat PBB mengunjungi negara bagian Rakhine. Menurut Arsi Ra, para pendemo meminta badan PBB yang mengurusi pengungsi (UNHCR) untuk tidak melakukan diskriminasi antara warga Budha dan Muslim Myanmar.
Beberapa warga Budha terutama etnis Rakhine di Myanmar, menilai UNHCR bersikap bias dan berpihak kepada warga Muslim Rohingya. Mereka menilai hal ini disebabkan oleh PBB merekrut personilnya dari komunitas Muslim.
Sebelumnya pihak berwenang Myanmar menangkap beberapa staf UNHCR yang dicurigai memicu kerusuhan warga Budha-Muslim yang menewaskan lebih dari 70 orang. Sementara aktivis Budha mendesak ditegakannya keadilan bagi seluruh korban kerusuhan yang terjadi Juni lalu.
Aktivis HAM internasional telah melaporkan bahwa pihak berwenang Myanmar melakukan tindakan kekerasan terhadap Muslim Rohingya dan beberapa komunitas minoritas Muslim lainnya.
Sangat jelas, biarawan Myanmar disebut turut andil menyebarkan kebencian terhadap Muslim Rohingya, seperti dilaporkan LSM lokal, Arakan Project, Jumat (27/7). Desastian/dbs(VoA-Islam)
0 comments:
Post a Comment
komentar anda...